Alamat Bank Syariah

Bank Umum Syariah
Bank Muamalat Indonesia
Arthaloka Building Lt.5
Jl. Jend. Sudirman Kav.2 Jakarta 10220
Telp. 2511414/51/70

Bank Syariah Mandiri
Gedung Bank Syariah Mandiri Lt.3
Jl. MH. Thamrin No.5 Jakarta 10340
Telp. 2300509, 39839000 (Hunting)

Bank Syariah Mega Indonesia
Menara Bank Mega Lt.21
Jl. Kapten Tendean Kav.12-14 Jakarta Selatan 12790
Telp. 7917 5500 (Hunting)

PT Bank Persyarikatan Indonesia
Jl. Salemba Raya No. 55 Jakarta 10440
Telp. 2300912

Unit Usaha Syariah Bank Umum
Bank IFI Syariah
Ariobimo Sentral, Lt. Dasar
Jl. HR. Rasuna Said X2, Kav.5 Jakarta 12950
Telp. 522 6088 (Hunting)

Bank BNI Syariah
Gedung BNI Lt.22
Jl. Jend. Sudirman Kav.1 Jakarta 10220
Telp. 5728773/91

Bank Bukopin Syariah
Gedung Bank Bukopin
Jl. MT. Haryono Kav.50-51 Jakarta Selatan 12770
Telp.7989837, 7988266 (Hunting)

Bank BRI Syariah
Gedung BRI II Lt.5
Jl. Jend. Sudirman No.44-46 Jakarta 10210
Telp. 5713116, 2510286(Direct)

Bank Danamon Syariah
Graha Surya Internusa Building 3rd Floor
Jl. HR. Rasuna Said Kav. X-0, Jakarta 12950
Telp. 2551 7198

Bank BII Syariah
Gedung Bank BII Jatinegara Lt.3
Jl. Jatinegara Timur No.59 Jaktim 13310
Telp. 2800811

HSBC Amanah Syariah
Gedung World Trade Center Lt.4
Jl. Jend. Sudirman Kav.29-31 Jakarta 12920
Telp. 524 6656/59

Bank Niaga Syariah
Gedung Victoria Lt.2
Jl. Sultan Hasanuddin 47-51 Jakarta Selatan 12160
Telp. 726 8050/51

PermataBank Syariah
PermataBank Tower III, 1st Floor
Jl. MH. Thamrin Blok B1 No.1, Bintaro Jaya,
Sektor VII Tangerang 15225
Telp. 7455888 (Hunting)

Bank BTN Syariah
Menara Bank BTN Lt.19
Jl. Gajah Mada No.1 Jakarta 10130
Telp. 633 2666/6789

Bank Ekspor Indonesia Syariah
Jakarta Stock Exchange Building Tower II, 8th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53 Jakarta 12190
Telp. 5154638

Bank BTPN Syariah
Jl. Otto Iskandardinata No.392 Bandung 40242
Telp. (022) 5202822

Bank Lippo Salam
Gedung Menara Asia Lt.11
Jl. Boulevard Diponegoro 101, Karawaci Tangerang 15810
Telp. 5460555

ABN Amro Bank
Jakarta Stock Exchange Tower II Lt.10 SCBD
Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53 Jakarta 12190
Telp. 5156000

Unit Usaha Syariah Bank BPD
Bank Jabar Syariah
Jl. Pelajar Pejuang ’45 No.54 Bandung 40262
Telp. (022) 7316408, 7319015, 7306608

Bank DKI Syariah
Jl. KH. Wahid Hasyim No. 153 Tanah Abang, Jakarta Pusat 10240
Telp. 3909706, 3901340, 3901466

Bank Riau Syariah
Jl. Sudirman No.628 Pekanbaru 28116
Telp. (0761) 32826, 856356

Bank Sumut Syariah
Jl. Imam Bonjol No.18 Medan
Telp. (061) 4155100

Bank BPD Aceh Syariah
Jl. Tgk.H. Muhd. Daud Beureueh No.24 Banda Aceh 23231
Telp. (0651) 229966 (Hunting)

BPD Kalsel Syariah
Gedung Bank BPD Kalsel
Jl. Brigjend. H. Hassan Basry No. 8, Banjarmasin 70123
Telp. (0511) 3350726-28

Bank BPD NTB Syariah
Jl. Pejanggik No.30 Mataram 83126 Nusa Tenggara Barat
Telp. (0370) 632582

Bank Sumsel Syariah
Jl. Kapten A. Rivai No.21 Palembang 30129
Telp. (0711) 350494, 3511867

Bank BPD Kalbar Syariah
Jl. Ahmad Yani Komplek Perkantoran & Town House No.5-6, Pontianak
Telp. (0561) 706 1800

Bank BPD DIY Syariah
Jl. Tentara Pelajar No.7 Yogyakarta 55231
Telp. (0274) 561614 (Hunting)

BPD Kaltim Syariah
Gedung BPD Kaltim Lt. I & II
Jl. Jend. Sudirman No.33 Samarinda
Telp. (0541) 735500

Bank Nagari Syariah (BPD Sumbar)
Jl. Pemuda No.21 Padang 25117 Sumatera Barat
Telp. (0751) 31577

Bank Jatim Syariah
Jl. Basuki Rachmad No.98-104 Surabaya 60271
Telp. (031) 5310090

Bank Sulsel Syariah
Jl. Dr. Sam Ratulangi No.16 Makasar 90125
Telp. (0411) 859171

Bank Jateng Syariah
Jl. Pemuda 142 Semarang
Telp. (024) 3547541

Bank Kustodian Syariah
Deutsche Bank
Deutsche Bank Building
Jl. Imam Bonjol No.80 Jakarta 10310
Telp. 3193 1092, 3904792

Kustodian Bank HSBC

Kustodian Bank Niaga

Citibank, N.A. Indonesia
Citibank Tower Lt.6
Jl. Jend. Sudirman Kav.54-55 Jakarta 12190
Fax. 52908555

Kustodian Bank Bukopin

Standard Chartered Bank
Wisma Standard Chartered Bank
Jl. Jend. Sudirman Kav.33A Jakarta 10220
Telp. 57999000

BPR Syariah

Dewan Syariah Nasional MUI
Masjid Istiqlal Km.12 Taman Wijayakusuma, Jakarta 10710
Telp. (021) 3450932 Fax. (021) 3440889

Advertisements

Konsep Dasar Asuransi Syariah

Indonesia merupakan Negara, dimana mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Namun demikian, perkembangan produk-produk dengan prinsip syariah baru berkembangn kurang lebih 3-4 tahun yang lalu.

Asuransi berbasis syariah mulai digarap oleh beberapa perusahaan dengan pendirian divisi syariah. Dengan terus berkembangnya produk-produk berbasis syariah, maka kami melihat pentingnya untuk memperkenalkan secara khusus produk asuransi syariah.

Sebelum masuk prinsip-prinsip dan mekanisme produk tersebut, banyak kalangan muslim yang beranggapan bahwa berasuransi adalah haram. Apakah benar? Ikut pembahasannya dibawah ini.

Asuransi Tidak Islami?
Sebagian kalangan Islam beranggapan bahwa asuransi sama dengan menentang qodlo dan qadar atau bertentangan dengan takdir. Pada dasarnya Islam mengakui bahwa kecelakaan, kemalangan dan kematian merupakan takdir Allah. Hal ini tidak dapat ditolak. Hanya saja kita sebagai manusia juga diperintahkan untuk membuat perencanaan untuk menghadapi masa depan. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr: 18

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan”.

Jelas sekali dalam ayat ini kita dipertintahkan untuk merencanakan apa yang akan kita perbuat untuk masa depan.

Dalam Al Qur’an, surat Yusuf :43-49, Allah menggambarkan contoh usaha manusia membentuk sistem proteksi menghadapai kemungkinan yang buruk dimasa depan. Secara ringkas, ayat ini bercerita tentang pertanyaan raja mesir tetang mimpinya kepada Nabi Yusuf. Dimana raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan dia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berbuah serta tujuh tangkai yang merah mengering tidak berbuah.

Nabi Yusuf dalam hal ini menjawab supaya kamu bertanam tujuh tahun dan dari hasilnya hendaklah disimpan sebagian. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapapi masa sulit tesebut, kecuali sedikit dari apa yang disimpan.

Sangat jelas dalam ayat ini kita dianjurkan untuk berusaha menjaga kelangsungan kehidupan dengan meproteksi kemungkinan terjadinya kondisi yang buruk. Dan sangat jelas ayat diatas menyatakan bahwa berasurnasi tidak bertentangan dengan takdir, bahkan Allah menganjurkan adanya upaya-upaya menuju kepada perencanaan masa depan dengan sisitem proteksi yang dikenal dalam mekanisme asuransi.

Jadi, jika sistem proteksi atau asuransi dibenarkan, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah asuransi yang kita kenal sekarang (asuransi konvensional) telah memenuhi syarat-syarat lain dalam konsep muamalat secara Islami. Dalam mekanisme asuransi konvensional terutama asuransi jiwa, paling tidak ada tiga hal yang masih diharamkan oleh para ulama, yaitu: adanya unsur gharar (ketidak jelasan dana), unsur maisir (judi/ gambling) dan riba (bunga). Ketiga hal ini akan dijelaskan dalam penjelasaan rinci mengenai perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah.

Asuransi Konvensional Dan Syariah
Asuransi jiwa syariah dan asuransi jiwa konvensional mempunyai tujuan sama yaitu pengelolaan atau penanggulangan risiko. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah cara pengelolaannya pengelolaan risiko asuransi konvensional berupa transfer risiko dari para peserta kepada perusahaan asuransi (risk transfer) sedangkan asuransi jiwa syariah menganut azas tolong menolong dengan membagi risiko diantara peserta asuransi jiwa (risk sharing).

Selain perbedaan cara pengelolaan risiko, ada perbedaan cara mengelola unsur tabungan produk asuransi. Pengelolaan dana pada asuransi jiwa syariah menganut investasi syariah dan terbebas dari unsur ribawi

Secara rinci perbedaan antara asuransi jiwa syariah dan asuransi jiwa konvensional dapat dilihat pada uraian berikut :

Kontrak Atau Akad
Kejelasan kontrak atau akad dalam praktik muamalah menjadi prinsip karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syariah. Demikian pula dengan kontrak antara peserta dengan perusahaan asuransi. Asuransi konvensional menerapkan kontrak yang dalam syariah disebut kontrak jual beli (tabaduli).

Dalam kontrak ini harus memenuhi syarat-syarat kontrak jual-beli. Ketidakjelasaan persoalan besarnya premi yang harus dibayarkan karena bergantung terhadap usia peserta yang mana hanya Allah yang tau kapan kita meninggal mengakibatkan asuransi konvensional mengandung apa yang disebut gharar —ketidakjelasaan pada kontrak sehingga mengakibatkan akad pertukaran harta benda dalam asuransi konvensional dalam praktiknya cacat secara hukum

Sehingga dalam asuransi jiwa syariah kontrak yang digunakan bukan kontrak jual beli melainkan kontrak tolong menolong (takafuli). Jadi asuransi jiwa syariah menggunakan apa yang disebut sebagai kontrak tabarru yang dapat diartikan sebagai derma atau sumbangan. Kontrak ini adalah alternatif uang sah dan dibenarkan dalam melepaskan diri dari praktik yang diharamkan pada asuransi konvensional.

Tujuan dari dana tabarru’ ini adalah memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk tujuan saling membantu satu dengan yang lain sesama peserta asuransi syariah apabila diantaranya ada yang terkena musibah. Oleh karenanya dana tabarru’ disimpan dalam satu rekening khsusus, dimana bila terjadi risiko, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening dana tabarru’ yang sudah diniatkan oleh semua peserta untuk kepentingan tolong menolong.

Kontrak Al-Mudharabah
Penjelasan di atas, mengenai kontrak tabarru’ merupakan hibah yang dialokasikan bila terjadi musibah. Sedangkan unsur di dalam asuransi jiwa bisa juga berupa tabungan. Dalam asuransi jiwa syariah, tabungan atau investasi harus memenuhi syariah.

Dalam hal ini, pola investasi bagi hasil adalah cirinya dimana perusahaan asuransi hanyalah pengelola dana yang terkumpul dari para peserta. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.

Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Kontrak bagi hasil disepkati didepan sehingga bila terjadi keuntungan maka pembagiannya akan mengikuti kontrak bagi hasil tersebut. Misalkan kontrak bagi hasilnya adalah 60:40, dimana peserta mendapatkan 60 persen dari keuntungan sedang perusahaan asuransi mendapat 40 persen dari keuntungan.

Dalam kaitannya dengan investasi, yang merupakan salah satu unsur dalam premi asuransi, harus memenuhi syariah Islam dimana tidak mengenal apa yang biasa disebut riba. Semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan mekanisme bunga.

Dengan demikian asuransi konvensional susah untuk menghindari riba. Sedangkan asuransi syariah daolam berinvestasi harus menyimpan dananya ke berbagai investasi berdasarkan syariah Islam dengan sistem al-mudharabah.

Dana Hangus
Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, dimana peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula dengan asuransi jiwa konvensional non-saving (tidak mengandung unsur tabungan) atau asuransi kerugian, jika habis msa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi asuransi yang sudah dibayarkan hangus atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.

Dalam konsep asuransi syariah, mekanismenya tidak mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi yang sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru’ yang tidak dapat diambil.

Begitu pula dengan asuransi syariah umum, jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka pihak perusahaan mengembalikan sebagian dari premi tersebut dengan pola bagi hasil, misalkan 60:40 atau 70:30 sesuai dengan kesepakatan kontrak di muka. Dalam hal ini maka sangat mungkin premi yang dibayarkan di awal tahun dapat diambil kembali dan jumlahnya sangat bergantung dengan tingkat investasi pada tahun tersebut.

Manfaat Asuransi Syariah
Asuransi syariah dapat menjadi alterntif pilihan proteksi bagi pemeluk agama Islam yang menginginkan produk yang sesuai dengan hukum Islam. Produk ini juga bisa menjadi pilihan bagi pemeluk agama lain yang memandang konsep syariah adil bagi mereka. Syariah adalah sebuah prinsip atau sistem yang ber-sifat universal dimana dapat dimanfaatkan oleh siapapun juga yang berminat. Demikianlah sekilas ulasan mengenai asuransi syariah. Semoga ulasan ini menambah wawasan dan pengetahuan anda.

FILOSOFIS ISLAM
filosofis ekonomi Islam menurut Adiwarman Karim, terbagi atas empat hal, yaitu : Pertama, prinsip tauhid, yaitu dimana kita meyakini akan kemahaesaan dan kemahakuasaan Allah SWT didalam mengatur segala sesuatunya, termasuk mekanisme perolehan rizki. Sehingga seluruh aktivitas, termasuk ekonomi, harus dilaksanakan sebagai bentuk penghambaan kita kepada Allah SWT secara total.

Yang kedua, prinsip keadilan dan keseimbangan, yang menjadi dasar kesejahteraan manusia. Karena itu, setiap kegiatan ekonomi haruslah senantiasa berada dalam koridor keadilan dan keseimbangan. Kemudian

Yang ketiga adalah kebebasan. hal ini berarti bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi sepanjang tidak ada ketentuan Allah SWT yang melarangnya.

Selanjutnya yang keempat adalah pertanggungjwaban. Artinya bahwa manusia harus memikul seluruh tanggung jawab atas segala keputusan yang telah diambilnya.