Marketing Syariah Menyejukan Kita semua

Marketing sering kali dipersepsikan sebagai upaya untuk memasarkan barang dan jasa dengan berbagai cara sampai barang dan jasa tersebut terjual karena dalam prakteknya, para pemasar telah melupakan etika dan nilai-nilai dasar dari marketing itu sendiri, seperti diungkap secara jenaka oleh pakar Marketing Syariah kita, Syakir Sula , dalam bukunya “Marketing Bahlul ”.

Tidaklah berlebihan bilamana dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tak sekadar mempraktikkan perdagangan yang adil dan jujur, namun juga meletakkan prinsip-prinsip dasar pemasaran dalam berbisnis. Beliau tidak pernah membiarkan pelanggannya mengeluh dan selalu menepati janji, misalnya, dengan mengantarkan barang-barang yang kualitasnya telah disepakati secara tepat waktu. Tak pernah ada pertengkaran antara beliau dengan para pelanggannya seperti yang umum terjadi di pasar saat itu.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Abdullah ibn Abi Hamzah yang melakukan jual beli dengan Rasulullah namun sebelum sempat menyelesaikan transaksinya tiba-tiba harus segera pergi. Ia berjanji akan kembali dan menetapkan batas waktunya. Namun, ia lupa akan janjinya dan baru ingat pada hari ketiga. Saat ia kembali ke tempat yang sama, ia menemukan Rasulullah SAW masih berdiri di sana. Beliau tidak menunjukkan muka marah dan tidak mengatakan sesuatu, kecuali bahwa ia sudah menunggu di tempat itu selama tiga hari!

Beliau sangat menekankan pentingnya kejujuran dan menghindari kecurangan dalam setiap upaya memasarkan barang dan jasa. Kondisi dan kualitas barang dan jasa tersebut harus secara jelas disampaikan kepada calon pembeli. Betapa pentingnya kejujuran tersebut nampak dalam sabdanya bahwa pada Hari Kebangkitan Allah tidak akan berbicara, melihat, mensucikan orang yang yang menghasilkan penjualan yang cepat dari suatu barang dengan sumpah palsu.

Alangkah indah dan menyejukkannya jika perniagaan dan upaya pemasaran didasarkan pada prinsip-prinsip Islam tersebut. Orang tidak semata-mata menghitung untung atau rugi, tidak terpengaruh lagi dengan hal yang bersifat duniawi, tetapi panggilan jiwalah yang mendorongnya, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai spiritual.

Pemasar Syariah juga bukan monopoli muslim tetapi terbuka untuk semua umat sebagaimana Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam sekitar. Hal ini dibuktikan oleh Beriman Sinaga, Marketing Executive Allianz Life Indonesia, seorang non muslim yang meraih penghargaan sebagai “Top Syariah 2008”.

Sharing edisi ini mengajak Anda untuk melihat bahwa prinsip syariah dalam perniagaan, khususnya pada ceruk marketing, bukan suatu yang “di awang-awang” dan tidak aplikatif. Kami menyodorkan serangkaian contoh: dalam barisan perusahaan ada Internusa Cargo, Poliyama Communication, dan PT Red Crispy International, misalnya, yang bisnisnya menukik naik justru setelah menerapkan prinsip marketing syariah.

Ada juga Eka Shanty yang berhasil menyelamatkan induk perusahaannya yang nyaris bangkrut dengan banting setir menerapkan prinsip syariah. Sharing juga mengajak Anda berkenalan dengan Beriman Sinaga.

Intinya, marketing syariah adalah marketing dengan nilai atau prinsip-prinsip yang bersifat universal, melintasi aneka sekat wilayah, jenis usaha, bahkan agama. Seperti dikatakan pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, Marketing syariah itu sifatnya spiritual, universal, dan realistis. Jadi bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Termasuk Anda

Advertisements

One Response

  1. CIRIKHAS ISLAM YANG UNIVERSAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: